Pada Sabtu, 5 September 2026, dan Senin, 7 September 2026, dilaksanakan kegiatan edukasi mengenai pencegahan tuberkulosis (TBC) dengan menggunakan metode game-based learning. Pada hari pertama, para peserta mendapatkan pemaparan dari Ludenara dan UNICEF mengenai latar belakang serta konsep kegiatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru dan tenaga kesehatan mengenai TBC, khususnya tentang gejala, pencegahan, dan pengobatannya. Metode game-based learning dipilih agar proses belajar terasa lebih menarik dan lebih mudah dipahami. Selain itu, metode ini juga memberikan pengalaman belajar yang interaktif bagi para pendidik untuk mengenalkan pengetahuan tentang TBC kepada siswa melalui kolaborasi dan keterlibatan secara langsung.
Kegiatan utama menggunakan sebuah board game yang terdiri dari beberapa komponen. Komponen pertama adalah kartu karakter yang menampilkan delapan karakter berbeda. Setiap karakter memiliki informasi mengenai langkah-langkah pencegahan TBC dan gejala yang dialami.
Komponen kedua adalah kartu diagnosis yang berisi berbagai hasil pemeriksaan, seperti tes darah, tes dahak, rontgen, dan tes Mantoux, dengan hasil positif atau negatif. Sementara itu, komponen ketiga adalah kartu pengobatan yang menunjukkan durasi pengobatan selama tiga atau enam bulan, sesuai dengan kondisi masing-masing karakter.
Karakter yang terdiagnosis TBC akan mendapatkan pengobatan selama enam bulan, sedangkan karakter yang membutuhkan TB Preventive Treatment (TPT) akan mendapatkan pengobatan selama tiga bulan. Permainan ini juga dilengkapi dengan koin obat dan koin status pengobatan.
Pada Senin, 7 September 2026, lima siswa ikut berpartisipasi dalam permainan tersebut. Karena permainan ini dirancang sebagai aktivitas kolaboratif, bukan kompetisi, para siswa bekerja sama untuk mengungkap dan menangani kasus dari setiap karakter.
Masing-masing siswa mendapatkan lima kartu, sementara kartu lainnya diletakkan di tengah. Para siswa kemudian bergiliran mengambil dan membuang kartu dengan tujuan mengumpulkan empat kartu yang memiliki karakter yang sama.
Keempat kartu tersebut memiliki tiga warna dengan informasi yang berbeda. Warna hijau menunjukkan langkah-langkah pencegahan TBC, warna merah menunjukkan gejala, sedangkan warna oranye menunjukkan riwayat kesehatan, kebiasaan, atau kontak dengan seseorang yang mengalami TBC.
Jika keempat kartu yang terkumpul berwarna hijau, karakter tersebut dianggap tidak memiliki TBC. Namun, jika terdapat kartu berwarna merah atau oranye, pemain dapat mengambil kartu diagnosis berdasarkan jumlah kartu tersebut.
Jika hasil diagnosis menunjukkan bahwa karakter tersebut mengalami TBC, maka karakter akan mendapatkan pengobatan selama enam bulan. Sementara itu, jika hasil diagnosis negatif, karakter akan mendapatkan TPT selama tiga bulan.
Setelah itu, para pemain mengumpulkan koin obat dan koin status pengobatan yang sesuai. Kartu milik pemain lain yang memiliki karakter yang sama dengan karakter yang sedang menjalani pengobatan kemudian diubah menjadi kartu Treatment Supporter (PMO). Kartu ini berfungsi sebagai pengingat agar pengobatan tetap berjalan dan obat tidak terlewat.
Permainan terus berlangsung hingga seluruh kasus dari setiap karakter berhasil diungkap dan seluruh periode pengobatan selesai.
Setelah permainan selesai, para siswa bersama guru fasilitator melakukan sesi refleksi. Para siswa berbagi bahwa permainan tersebut terasa menyenangkan dan membantu mereka memahami gejala, pencegahan, serta pengobatan TBC dengan lebih mudah.
Mereka juga antusias untuk memainkan permainan tersebut kembali dan mengeksplorasi berbagai cara untuk memodifikasinya.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa game-based learning dapat menjadi cara yang menarik dan kolaboratif untuk membantu siswa memahami isu kesehatan, termasuk TBC. Melalui permainan dan keterlibatan secara langsung, siswa tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar, berdiskusi, dan memahami pentingnya pencegahan serta pengobatan TBC.

.jpeg)